Resign untuk usaha: persiapan keuangan sebelum melangkah
Mau resign untuk usaha atau jadi freelancer penuh? Hitung dana hidup saat merintis, dana darurat, dan modal usaha secara terpisah. Mulai rencanakan di sini.
Diterbitkan 2 Agustus 2026

Setiap Senin pagi kamu membuka laptop kantor sambil memikirkan usaha kecil yang sudah lama kamu rintis di akhir pekan. Pesanan mulai rutin, klien mulai datang dari mulut ke mulut, dan pertanyaan itu makin sering muncul: kapan berani keluar dari pekerjaan dan fokus penuh?
Keputusan resign untuk usaha bukan cuma soal keberanian, tapi juga soal hitungan. Di catatan ini kami bahas persiapan keuangan sebelum resign: cara menghitung dana hidup saat merintis usaha, berapa tabungan yang perlu ada sebelum jadi wirausaha atau freelancer penuh, kenapa modal usaha harus dipisah, dan linimasa 12 bulan untuk bersiap dengan tenang.
Resign untuk usaha butuh tiga kantong uang
Anggapan yang paling sering muncul adalah satu tabungan cukup untuk semuanya. Saat usaha butuh tambahan stok dan dapur rumah butuh belanja di bulan yang sama, satu tabungan itu terkuras dari dua arah sekaligus.
Karena itu, pisahkan uangmu menjadi tiga kantong sejak awal:
| Kantong | Fungsi | Dasar hitungan |
|---|---|---|
| Dana darurat | Bantalan kejadian tak terduga, tidak disentuh untuk biaya rutin | Pengeluaran pokok × 6–12 bulan |
| Dana hidup (runway) | Membiayai hidup selama usaha belum bisa menggajimu | Kekurangan biaya hidup per bulan × jumlah bulan |
| Modal usaha | Peralatan, stok awal, dan modal kerja usaha | Rencana kebutuhan usaha |
Dana darurat tetap ada karena risiko hidup tidak berhenti saat kamu jadi pengusaha. Cara menghitungnya sudah kami bahas di catatan cara menghitung dana darurat.
Dana hidup saat merintis usaha
Dana hidup atau runway adalah uang yang menggantikan gaji selama usaha belum bisa membayar pemiliknya secara rutin. Hitungannya dimulai dari pengeluaran pokok bulanan, lalu dikurangi penghasilan lain yang sudah pasti masuk, misalnya dari usaha sampingan yang sudah berjalan.
Dana hidup = (pengeluaran pokok bulanan − penghasilan rutin lain) × jumlah bulan runway
Berapa bulan runway yang dibutuhkan? Tidak ada angka baku. Patokan yang masuk akal adalah perkiraan berapa lama sampai usahamu bisa menggaji kamu, ditambah beberapa bulan cadangan karena rencana usaha jarang berjalan persis sesuai jadwal. Banyak orang memakai 6–12 bulan sebagai titik awal, lalu menyesuaikan dengan kondisi usaha dan tanggungan.
Sebelum menghitung, catat pengeluaranmu yang sebenarnya selama 2–3 bulan. Ingat juga biaya yang selama ini ditanggung kantor dan akan pindah ke pundakmu: iuran BPJS Kesehatan, jaminan sosial ketenagakerjaan, asuransi kantor, laptop, sampai kuota internet.
Ada satu latihan yang berguna sebelum benar-benar resign: coba hidup dengan “gaji pengusaha” selama tiga bulan. Tentukan berapa yang realistis kamu ambil dari usaha di tahun pertama, misalnya Rp4.000.000, lalu hiduplah dengan angka itu. Selisih dari gaji kantormu langsung dipindahkan ke kantong dana hidup.
Latihan ini memberi dua hasil sekaligus. Kamu tahu apakah angka pengeluaran pokokmu memang realistis, dan dana hidupmu bertambah tanpa terasa. Kalau ternyata berat dijalani, lebih baik ketahuan sekarang daripada setelah gaji berhenti.
Berapa tabungan sebelum jadi wirausaha?
Setelah tiga kantong dihitung, jumlahkan semuanya. Contohnya, Fajar adalah karyawan dengan pengeluaran pokok Rp7.000.000 per bulan dan berencana membuka usaha jasa fotografi produk.
| Komponen | Perhitungan | Jumlah |
|---|---|---|
| Dana darurat | Rp7.000.000 × 6 bulan | Rp42.000.000 |
| Dana hidup | (Rp7.000.000 − Rp3.000.000 dari proyek sampingan) × 9 bulan | Rp36.000.000 |
| Modal usaha | Kamera tambahan, lampu, dan modal kerja | Rp40.000.000 |
| Total yang perlu disiapkan | Rp118.000.000 |
Data simulasi, bukan hasil klien.
Lihat peran penghasilan sampingan di baris kedua. Kalau Fajar resign tanpa proyek sampingan, dana hidupnya menjadi Rp63.000.000 dan totalnya naik ke Rp145.000.000. Itulah kenapa banyak orang memilih membangun usaha sambil masih bekerja sampai penghasilannya cukup konsisten.
Pisahkan modal usaha dari tabungan pribadi
Modal usaha dihitung dari kebutuhan usaha, bukan dari sisa tabungan. Rinciannya meliputi peralatan, stok awal, biaya legalitas, promosi pembuka, dan modal kerja beberapa bulan. Langkah menghitungnya ada di catatan cara menghitung modal usaha.
Begitu angkanya jelas, simpan modal usaha di rekening terpisah atas nama usaha atau minimal rekening khusus. Tentukan juga sejak awal berapa gaji yang akan kamu ambil dari usaha nanti, supaya batas antara uang usaha dan uang pribadi tetap tegas. Kalau usaha sudah cukup besar, pertimbangkan juga bentuk usahanya, apakah tetap perorangan atau memakai badan usaha, seperti dibahas di catatan memilih bentuk usaha.
Persiapan keuangan sebelum resign: linimasa 12 bulan
Persiapan yang tenang biasanya butuh waktu. Berikut linimasa yang bisa kamu sesuaikan.
| Waktu sebelum resign | Langkah |
|---|---|
| 12 bulan | Catat pengeluaran pokok, tentukan target tiga kantong |
| 9 bulan | Jalankan usaha atau freelance sampingan, catat pemasukannya terpisah |
| 6 bulan | Lunasi atau kurangi utang konsumtif, tekan pengeluaran gaya hidup |
| 3 bulan | Siapkan jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan mandiri, cek perjanjian kerja |
| 1 bulan | Pastikan tiga kantong terisi, siapkan surat resign dan serah terima |
Di tahap tiga bulan, cek perjanjian kerjamu. Karyawan yang mengundurkan diri umumnya tidak mendapat pesangon seperti saat PHK, tapi bisa berhak atas uang penggantian hak dan uang pisah sesuai perjanjian kerja atau peraturan perusahaan. Untuk perlindungan setelah resign, kamu bisa mendaftar sebagai peserta mandiri, seperti dijelaskan di catatan BPJS Ketenagakerjaan bukan penerima upah.
Kalau kamu berencana mengajukan kredit baru, misalnya KPR, perhitungkan waktunya. Pengajuan biasanya lebih mudah saat penghasilanmu masih berupa gaji tetap dengan slip yang jelas.
Tanda kamu siap, atau perlu menunda sebentar
- Siap: tiga kantong sudah terisi, usaha sampingan punya pemasukan rutin minimal beberapa bulan, dan keluarga sudah diajak bicara.
- Perlu menunda: dana hidup belum ada, masih ada cicilan konsumtif besar, atau usaha belum pernah diuji dengan pembeli sungguhan.
Menunda bukan berarti batal. Tiga atau enam bulan tambahan untuk mengisi kantong yang kurang sering kali membuat langkahmu jauh lebih tenang.
Pertanyaan yang sering muncul
Lebih baik resign dulu atau jalankan usaha sampingan dulu?
Kalau memungkinkan, jalankan usaha sampingan dulu. Kamu bisa menguji pasar, mengumpulkan pelanggan pertama, dan melihat pola pemasukan tanpa kehilangan gaji. Resign biasanya lebih tenang setelah usaha punya pemasukan yang cukup konsisten.
Apakah karyawan yang resign mendapat pesangon?
Umumnya tidak, karena pesangon terkait dengan PHK. Karyawan yang mengundurkan diri biasanya berhak atas uang penggantian hak, misalnya cuti yang belum diambil, dan uang pisah kalau diatur dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan. Cek dokumen kerjamu atau tanyakan ke bagian HR.
Berapa lama usaha baru biasanya bisa menggaji pemiliknya?
Sangat bergantung pada jenis usaha, modal, dan pasar, jadi tidak ada angka umum yang bisa dipegang. Cara paling jujur adalah membuat proyeksi dari data usaha sampinganmu sendiri, lalu menambahkan cadangan beberapa bulan di atasnya.
Mulai dari mencatat pengeluaran bulan ini
Resign untuk usaha jauh lebih tenang kalau tiga kantong sudah siap: dana darurat yang tidak disentuh, dana hidup untuk masa merintis, dan modal usaha yang terpisah. Mulai dari mencatat pengeluaran pokok, lalu susun linimasa yang realistis.
Kalau kamu ingin menghitung tiga kantong ini dengan angka sendiri, layanan keuangan Kancani bisa membantu menyusun rencananya bareng. Atau ceritakan dulu rencanamu lewat ngobrol dengan kami.


