BlogKeuangan

Basis kas dan akrual: beda, contoh, dan mana yang cocok

Basis kas dan akrual dijelaskan lewat satu transaksi yang dicatat dua cara, lengkap dengan contoh UMKM dan tips memilih metode. Pahami bedanya di sini.

Diterbitkan 18 Juli 2026

Pemilik usaha membandingkan buku catatan basis kas dan basis akrual di dua sisi meja

Bulan Juni, usaha katering Bu Sari menerima pesanan besar dari sebuah kantor. Laporan yang dibuat akuntannya menunjukkan laba Rp5.500.000. Tapi saat Bu Sari membuka rekening usaha, saldonya justru turun Rp4.000.000 dibanding awal bulan. Jadi, sebenarnya bulan itu untung atau rugi?

Jawabannya: dua-duanya benar, tergantung cara mencatatnya. Di catatan ini kami bahas basis kas dan akrual dengan cara paling sederhana, yaitu mencatat satu transaksi yang sama dengan dua basis secara berdampingan. Setelah itu, kita lihat kenapa laba dan kas bisa berbeda, dan metode mana yang cocok untuk usaha kecil sepertimu.

Beda basis kas dan basis akrual

Perbedaannya ada pada kapan sebuah transaksi dicatat sebagai pendapatan atau beban.

AspekBasis kasBasis akrual
Pendapatan dicatat saatUang benar-benar diterimaBarang atau jasa sudah diserahkan
Beban dicatat saatUang benar-benar dibayarBeban terjadi atau dipakai
Yang terlihat jelasPosisi uang di tanganKinerja usaha di periode itu
KelebihanSederhana, mudah dicocokkan dengan rekeningLaba lebih mencerminkan kenyataan
KeterbatasanLaba bisa naik-turun tajam karena waktu bayarPerlu mencatat piutang dan utang

Dengan basis kas, buku catatanmu mirip mutasi rekening. Dengan basis akrual, kamu mencatat hak dan tanggungan yang sudah muncul, walaupun uangnya belum berpindah. Istilah seperti piutang, utang, dan beban dibahas lebih lengkap di catatan akuntansi dasar untuk pemula.

Beda basis kas dan basis akrual dari waktu pencatatan pendapatan dan beban
Basis kas mengikuti uang, basis akrual mengikuti kejadian.

Satu transaksi, dua basis: contoh pencatatan akrual UMKM

Kita kembali ke Bu Sari. Berikut kejadian di bulan Juni dan Juli:

  1. 10 Juni: membeli bahan Rp4.000.000, dibayar tunai.
  2. 25 Juni: mengantar 200 kotak makanan ke kantor klien dan mengirim invoice Rp10.000.000 dengan tempo 20 hari.
  3. 30 Juni: tagihan listrik dapur bulan Juni Rp500.000 keluar, dibayar 5 Juli.
  4. 15 Juli: klien melunasi invoice Rp10.000.000.

Sekarang kita catat dengan dua basis, berdampingan:

BulanBasis kasBasis akrual
Juni: pendapatanRp0Rp10.000.000
Juni: bebanRp4.000.000Rp4.500.000
Laba (rugi) Juni(Rp4.000.000)Rp5.500.000
Juli: pendapatanRp10.000.000Rp0
Juli: bebanRp500.000Rp0
Laba JuliRp9.500.000Rp0
Total dua bulanRp5.500.000Rp5.500.000

Data simulasi, bukan hasil klien.

Contoh pencatatan akrual UMKM dan basis kas untuk transaksi katering yang sama
Total dua bulannya sama, yang berbeda adalah bulan mana yang terlihat untung.

Perhatikan baris terakhir. Dalam jangka panjang, kedua basis menghasilkan total laba yang sama. Bedanya ada pada cerita per bulan. Basis kas membuat Juni terlihat rugi dan Juli sangat untung, padahal pekerjaan sebenarnya dilakukan di bulan Juni. Basis akrual menaruh pendapatan dan bebannya di bulan pekerjaan itu terjadi.

Dalam catatan akrual, invoice yang belum dibayar tercatat sebagai piutang Rp10.000.000 di akhir Juni, dan tagihan listrik sebagai utang Rp500.000. Keduanya baru “hilang” ketika uangnya berpindah di bulan Juli. Kalau ditulis dalam bentuk jurnal sederhana, pencatatan akrual untuk invoice tadi terlihat seperti ini:

TanggalAkunDebitKredit
25 JuniPiutang usahaRp10.000.000
PendapatanRp10.000.000
15 JuliKasRp10.000.000
Piutang usahaRp10.000.000

Data simulasi, bukan hasil klien.

Pendapatan hanya dicatat sekali, di bulan Juni. Pelunasan di bulan Juli cukup memindahkan piutang menjadi kas, tanpa menambah pendapatan lagi.

Basis kas dan akrual: kenapa laba dan kas bisa berbeda

Kembali ke pertanyaan Bu Sari: laporan bilang untung Rp5.500.000, rekening bilang turun Rp4.000.000. Laporan laba rugi akrual menjawab “apakah usahaku menghasilkan nilai bulan ini?”, sedangkan rekening menjawab “berapa uang yang ada di tangan?”. Selisih keduanya biasanya datang dari:

  • Piutang: penjualan sudah dicatat, tetapi uangnya belum masuk.
  • Utang ke pemasok: bahan sudah dipakai, tetapi belum dibayar.
  • Persediaan: uang sudah keluar untuk stok yang belum terjual.
  • Pembelian peralatan: uang keluar sekaligus, tetapi bebannya dibagi beberapa tahun lewat penyusutan.

Karena itu, usaha yang laporannya untung tetap bisa kehabisan kas, terutama kalau piutangnya menumpuk. Untuk memantau keduanya, pakai dua laporan berdampingan: laporan laba rugi sederhana untuk kinerja, dan laporan arus kas untuk ketersediaan uang.

Empat penyebab laba dan kas berbeda: piutang, utang, persediaan, dan peralatan
Laba dan kas berjalan di jalur berbeda, dan piutang sering jadi jaraknya.

Kalau jarak terbesar ada di piutang, langkah paling berdampak biasanya ada di penagihan. Tips menagih dengan sopan tapi tegas ada di catatan cara menagih piutang.

Metode pencatatan yang cocok untuk usaha kecil

Tidak ada jawaban tunggal, tetapi kondisi usahamu bisa jadi penentu:

Kondisi usahaPilihan yang masuk akal
Semua penjualan tunai, stok sedikit, belum ada karyawanBasis kas sudah cukup untuk mulai
Ada penjualan tempo atau invoice ke klienMulai catat piutang (akrual sebagian)
Membeli bahan dari pemasok dengan tempoCatat juga utang usaha
Stok banyak, punya peralatan bernilai besarAkrual penuh
Butuh laporan keuangan untuk bank atau investorAkrual penuh

Standar akuntansi untuk entitas mikro, kecil, dan menengah (SAK EMKM) dari Ikatan Akuntan Indonesia juga memakai dasar akrual. Jadi, kalau suatu hari kamu perlu menyusun laporan keuangan formal, akrual adalah tujuan akhirnya.

Banyak usaha kecil memulai dengan cara campuran yang realistis: mencatat kas harian seperti biasa, ditambah dua daftar sederhana, yaitu daftar piutang dan daftar utang. Dari tiga catatan itu, laporan akrual bisa disusun kapan pun dibutuhkan.

Langkah pindah dari basis kas ke akrual

  1. Buat daftar piutang. Catat nama klien, nomor invoice, nilai, tanggal kirim, dan jatuh tempo.
  2. Buat daftar utang. Catat nama pemasok, nilai tagihan, dan jatuh tempo.
  3. Catat penjualan saat invoice terbit, bukan saat uang masuk.
  4. Hitung stok di akhir bulan, supaya HPP mencerminkan barang yang benar-benar terjual.
  5. Cocokkan dengan rekening setiap bulan. Saldo kas tetap jadi pegangan bahwa catatanmu nyambung dengan kenyataan.
Langkah pindah dari basis kas ke basis akrual dengan daftar piutang dan utang
Dua daftar sederhana sudah cukup untuk mulai mencatat secara akrual.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah UMKM harus memakai basis akrual?

Untuk pencatatan internal, kamu boleh mulai dari basis kas selama usahamu masih sederhana. Namun, kalau ada penjualan tempo, utang pemasok, atau kebutuhan laporan untuk bank, basis akrual memberi gambaran yang lebih akurat. Standar SAK EMKM pun memakai dasar akrual.

Mana yang lebih baik, basis kas atau akrual?

Keduanya punya fungsi berbeda. Basis kas unggul untuk memantau uang di tangan, sedangkan basis akrual unggul untuk menilai kinerja usaha per periode. Banyak pemilik usaha memakai keduanya: laporan laba rugi akrual dan laporan arus kas.

Apakah laporan arus kas sama dengan pembukuan basis kas?

Mirip, tetapi tidak sama. Laporan arus kas adalah ringkasan uang masuk dan keluar, dan bisa disusun dari pembukuan akrual. Pembukuan basis kas adalah cara mencatat seluruh transaksi hanya saat uang berpindah, termasuk saat menyusun laporan laba rugi.

Satu transaksi, dua cerita yang saling melengkapi

Basis kas dan akrual berbeda pada waktu pencatatan: kas mengikuti uang, akrual mengikuti kejadian. Dalam jangka panjang totalnya sama, tetapi akrual memperlihatkan kinerja per bulan dengan lebih jujur, sedangkan kas memperlihatkan napas usahamu. Usaha kecil bisa mulai dari kas harian ditambah daftar piutang dan utang.

Kalau kamu ingin merapikan sistem pencatatan supaya laporan laba rugi dan arus kasnya bisa dibaca berdampingan, layanan keuangan Kancani siap membantu. Atau ceritakan dulu kondisi usahamu lewat ngobrol dengan kami.

Tanya via WhatsApp