Arus kas usaha, cara membuat laporan sederhananya
Panduan arus kas untuk bisnis kecil. Pahami kenapa usaha bisa untung tapi kas kosong, lalu buat laporan arus kas sederhana lengkap dengan contoh.
Diterbitkan 4 Oktober 2026

Laporan bulan ini bilang usahamu untung, tapi saat mau bayar pemasok, saldo rekening justru tinggal sedikit. Situasi “untung tapi kas kosong” ini sangat umum di bisnis kecil, jadi kamu nggak sendirian. Biasanya yang belum terpantau adalah arus kas, yaitu jalannya uang yang benar-benar masuk dan keluar.
Di catatan ini, kami bahas beda laba dan kas, cara membuat laporan arus kas sederhana, serta kebiasaan sat-set untuk mengelola cash flow bisnis kecil. Ada contoh tabel yang bisa kamu tiru langsung. Setelah membacanya, kamu akan lebih tenang menghadapi bulan-bulan yang uangnya terasa seret.
Apa itu arus kas dan bedanya dengan laba
Arus kas adalah catatan uang tunai yang masuk dan keluar dari usaha dalam satu periode. Fokusnya sederhana: berapa uang yang benar-benar ada di kas dan rekening. Kalau laba ibarat nilai rapor, arus kas ibarat isi dompet yang bisa kamu pakai hari ini.
Laba dihitung dari penjualan dan biaya yang terjadi pada periode itu, walaupun uangnya belum berpindah tangan. Arus kas hanya mencatat uang yang sudah benar-benar masuk atau keluar. Karena itulah laporan laba rugi dan laporan arus kas bisa menunjukkan angka yang sangat berbeda.
Untung tapi kas kosong, kok bisa?
Bayangkan kamu mengirim pesanan Rp20 juta ke klien dengan tempo pembayaran 30 hari. Di laporan laba rugi, penjualan itu sudah tercatat sebagai pendapatan bulan ini. Tapi uangnya baru masuk bulan depan, sementara bahan dan gaji karyawan sudah harus dibayar sekarang.
- Piutang: pelanggan belum membayar, padahal penjualan sudah tercatat.
- Stok menumpuk: uang sudah keluar untuk bahan atau barang yang belum terjual.
- Pembelian aset: membeli alat atau mesin menguras kas, tapi tidak langsung menjadi biaya di laporan laba rugi.
- Cicilan pokok pinjaman dan prive: keduanya mengurangi kas, tapi tidak mengurangi laba.
Jadi, usaha yang untung pun bisa kehabisan uang tunai kalau arus kasnya tidak dipantau. Kabar baiknya, memantaunya tidak perlu software mahal.
Tiga kelompok arus kas
Agar mudah dibaca, arus kas biasanya dikelompokkan menjadi tiga. Pengelompokan ini membantu kamu melihat dari mana uang datang dan ke mana uang pergi.
- Aktivitas operasi: uang dari penjualan, pembayaran bahan, gaji, sewa, dan biaya rutin lain.
- Aktivitas investasi: pembelian atau penjualan aset seperti mesin, kendaraan, dan peralatan.
- Aktivitas pendanaan: pinjaman masuk, cicilan pinjaman, setoran modal, dan prive pemilik.
Cara membuat laporan arus kas sederhana dalam 5 langkah
- Catat saldo kas awal, yaitu jumlah uang tunai dan saldo rekening usaha di awal periode.
- Kumpulkan semua uang masuk dari mutasi rekening, catatan kasir, dan pencairan marketplace.
- Kumpulkan semua uang keluar, termasuk pembelian aset, cicilan, dan pengambilan pribadi pemilik.
- Kelompokkan setiap transaksi ke operasi, investasi, atau pendanaan.
- Hitung saldo kas akhir: saldo awal ditambah total kas masuk, dikurangi total kas keluar.
Saldo akhir di laporan sebaiknya sama dengan saldo rekening dan kas tunai yang sebenarnya. Kalau berbeda, ada transaksi yang terlewat. Langkah ini jauh lebih ringan jika rekening usaha sudah terpisah, seperti dibahas di panduan memisahkan keuangan pribadi dan bisnis.
Contoh laporan arus kas sederhana
Berikut contoh untuk usaha konveksi kecil selama satu bulan. Perhatikan bahwa kas turun walaupun aktivitas operasinya menghasilkan uang.
| Laporan arus kas, Oktober | Jumlah |
|---|---|
| Saldo kas awal | Rp8.000.000 |
| Penerimaan dari pelanggan (termasuk pelunasan piutang) | Rp35.000.000 |
| Pembayaran bahan | (Rp18.000.000) |
| Gaji karyawan | (Rp6.000.000) |
| Sewa tempat | (Rp3.000.000) |
| Listrik dan internet | (Rp1.200.000) |
| Arus kas bersih dari operasi | Rp6.800.000 |
| Pembelian mesin jahit | (Rp4.000.000) |
| Arus kas bersih dari investasi | (Rp4.000.000) |
| Cicilan pinjaman | (Rp2.500.000) |
| Prive pemilik | (Rp3.000.000) |
| Arus kas bersih dari pendanaan | (Rp5.500.000) |
| Perubahan kas bulan ini | (Rp2.700.000) |
| Saldo kas akhir | Rp5.300.000 |
Data simulasi, bukan hasil klien.
Operasi usahanya sehat karena menghasilkan kas Rp6.800.000. Kas turun karena pembelian mesin dan pengeluaran pendanaan terjadi di bulan yang sama. Dengan laporan seperti ini, kamu tahu bahwa masalahnya ada di waktu pengeluaran, bukan di penjualan.
Cara mengelola cash flow bisnis kecil
Laporan arus kas melihat ke belakang, sedangkan proyeksi kas melihat ke depan. Gabungkan keduanya agar kamu bisa bersiap sebelum kas menipis. Beberapa kebiasaan berikut bisa langsung kamu mulai.
- Tagih piutang dengan disiplin. Kirim invoice di hari yang sama dan ingatkan pelanggan sebelum jatuh tempo.
- Atur jadwal belanja besar. Hindari membeli aset di bulan yang sama dengan pengeluaran rutin yang berat.
- Tetapkan saldo minimum, misalnya cukup untuk biaya operasional satu bulan.
- Buat proyeksi kas mingguan untuk empat minggu ke depan.
| Minggu | Saldo awal | Kas masuk | Kas keluar | Saldo akhir |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Rp5.300.000 | Rp7.000.000 | Rp9.500.000 | Rp2.800.000 |
| 2 | Rp2.800.000 | Rp8.000.000 | Rp6.000.000 | Rp4.800.000 |
| 3 | Rp4.800.000 | Rp6.500.000 | Rp9.000.000 | Rp2.300.000 |
| 4 | Rp2.300.000 | Rp9.000.000 | Rp5.000.000 | Rp6.300.000 |
Data simulasi, bukan hasil klien.
Dari proyeksi di atas, minggu ketiga terlihat paling tipis. Kamu bisa mengantisipasinya dengan menagih piutang lebih awal atau menggeser belanja yang belum mendesak. Tanpa proyeksi, kondisi ini baru ketahuan saat saldo sudah mepet.
Jangan lupa memasukkan setoran pajak ke proyeksi kas. Kalau kamu memakai PPh Final 0,5%, pajaknya disetor paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya, dan tanggal-tanggal pentingnya bisa kamu pantau di kalender pajak Kancani. Aturan pajak bisa berubah, jadi cek ketentuan terbaru secara berkala.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa beda laporan arus kas dan laporan laba rugi?
Laporan laba rugi menunjukkan apakah usaha menghasilkan laba dalam satu periode, termasuk penjualan yang belum dibayar. Laporan arus kas hanya mencatat uang yang benar-benar masuk dan keluar. Keduanya saling melengkapi, jadi sebaiknya dibaca bersamaan.
Seberapa sering laporan arus kas perlu dibuat?
Untuk bisnis kecil, laporan bulanan sudah cukup sebagai pegangan. Proyeksi kas sebaiknya diperbarui setiap minggu, terutama jika usahamu punya banyak penjualan bertempo atau pengeluaran besar yang tidak rutin.
Apa yang dilakukan kalau kas sudah terlanjur menipis?
Tarik napas dulu, lalu buat daftar pembayaran yang paling mendesak, seperti gaji karyawan, pemasok utama, dan pajak. Tagih piutang yang sudah jatuh tempo, tunda pembelian yang bisa menunggu, dan bicarakan jadwal pembayaran dengan pemasok bila perlu. Setelah kondisi stabil, bangun cadangan kas sedikit demi sedikit.
Kas yang terpantau, usaha lebih tenang
Arus kas menjawab pertanyaan yang tidak dijawab laporan laba rugi: berapa uang yang benar-benar tersedia. Mulai dengan laporan arus kas bulanan, kelompokkan transaksi ke operasi, investasi, dan pendanaan, lalu tambahkan proyeksi mingguan.
Kalau kamu ingin dibantu menyusun laporan dan proyeksi kas pertama, kami bisa bantu lewat layanan keuangan Kancani. Atau, ceritakan dulu kondisi usahamu dan ngobrol dengan kami.


