Cara menghitung HPP produk UMKM dan menentukan harga jual
Cara menghitung HPP produk untuk UMKM lengkap dengan rumus, contoh kopi susu dan kue, serta cara menentukan harga jual agar usaha tetap untung.
Diterbitkan 1 Oktober 2026

Jualan laris, pembeli ramai, tapi saat dihitung di akhir bulan untungnya tipis sekali? Sering kali penyebabnya sederhana: harga jual ditentukan dengan perkiraan, bukan dari HPP yang dihitung dengan rapi. Kamu nggak sendirian, banyak usaha kecil memulai dengan cara yang sama.
Di catatan ini, kami ajak kamu memahami cara menghitung HPP produk langkah demi langkah, lengkap dengan rumus dan contoh angka untuk minuman dan makanan. Setelah itu, kita pakai HPP sebagai dasar menentukan harga jual. Siapkan nota belanja bahan terakhirmu, kita hitung bareng.
Apa itu HPP dan kenapa penting
HPP (harga pokok penjualan) adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan atau mendapatkan produk yang kamu jual. Untuk usaha produksi, isinya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya produksi lain seperti gas atau listrik dapur. Untuk usaha dagang, isinya harga beli barang yang terjual.
HPP adalah lantai harga jualmu. Kalau harga jual berada di bawah HPP, setiap produk yang terjual justru menggerus modal, seramai apa pun pembelinya. HPP juga menjadi baris penting dalam laporan laba rugi sederhana, karena dari sinilah laba kotor dihitung.
Rumus HPP UMKM untuk usaha dagang dan produksi
Untuk usaha dagang atau reseller, HPP dihitung per periode, misalnya per bulan. Rumusnya melihat stok di awal, pembelian selama bulan itu, dan stok yang tersisa di akhir bulan. Cara ini cocok untuk toko kelontong, reseller fashion, atau penjual produk jadi di marketplace.
HPP = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Persediaan awal bulan | Rp5.000.000 |
| Pembelian barang selama bulan | Rp12.000.000 |
| Persediaan akhir bulan | (Rp4.000.000) |
| HPP bulan ini | Rp13.000.000 |
Data simulasi, bukan hasil klien.
Untuk usaha produksi seperti kuliner atau kerajinan, HPP biasanya lebih berguna dihitung per unit atau per porsi. Komponennya ada tiga:
- Bahan baku dan kemasan: semua bahan yang menempel pada produk.
- Tenaga kerja langsung: upah orang yang membuat produk.
- Overhead produksi: gas, listrik, air, sewa dapur, dan biaya pendukung lain yang dibagi ke setiap unit.
Banyak usaha kecil hanya menghitung bahan baku, lalu heran kenapa laba tidak sesuai harapan. Tenaga kerja dan overhead memang tidak terlihat di piring, tapi tetap kamu bayar setiap bulan. Kalau kamu ikut memproduksi sendiri, masukkan juga upah yang layak untuk dirimu, walaupun belum benar-benar kamu ambil.
Cara menghitung HPP produk per porsi dalam 5 langkah
- Tulis resep atau komposisi produk lengkap dengan takarannya, termasuk kemasan.
- Hitung harga bahan per takaran. Misalnya susu Rp20.000 per liter berarti Rp3.000 untuk 150 ml.
- Jumlahkan biaya tenaga kerja dan overhead bulanan, lalu bagi dengan perkiraan jumlah produk per bulan.
- Tambahkan keduanya untuk mendapatkan HPP per porsi.
- Perbarui setiap kali harga bahan berubah, minimal sebulan sekali.
Contoh HPP kopi susu per gelas
Sekarang kita praktikkan dengan kopi susu gula aren. Biaya bahan dihitung per gelas, sedangkan tenaga kerja dan overhead dibagi rata ke perkiraan penjualan 1.500 gelas per bulan.
| Komponen | Biaya per gelas |
|---|---|
| Espresso (18 g biji kopi) | Rp4.500 |
| Susu segar 150 ml | Rp3.000 |
| Gula aren cair 20 ml | Rp1.000 |
| Es batu | Rp500 |
| Cup, tutup, dan sedotan | Rp1.500 |
| Subtotal bahan dan kemasan | Rp10.500 |
| Tenaga kerja dan overhead (Rp7.500.000 ÷ 1.500 gelas) | Rp5.000 |
| HPP per gelas | Rp15.500 |
Data simulasi, bukan hasil klien.
Angka Rp7.500.000 berasal dari sewa tempat Rp3.000.000, listrik dan air Rp900.000, serta upah barista Rp3.600.000 per bulan. Kalau penjualan ternyata hanya 1.000 gelas, beban per gelas naik menjadi Rp7.500 dan HPP ikut naik. Karena itu, pakai perkiraan penjualan yang realistis, bukan yang paling optimistis.
Cara menentukan harga jual dari HPP
Cara paling sat-set adalah markup, yaitu menambahkan persentase tertentu di atas HPP. Besarnya markup bergantung pada jenis usaha, posisi merek, dan harga pesaing, jadi tidak ada satu angka yang cocok untuk semua.
| Markup | Perhitungan | Harga jual | Laba kotor per gelas |
|---|---|---|---|
| 50% | Rp15.500 × 1,5 | Rp23.250 | Rp7.750 |
| 80% | Rp15.500 × 1,8 | Rp27.900 | Rp12.400 |
| 100% | Rp15.500 × 2 | Rp31.000 | Rp15.500 |
Data simulasi, bukan hasil klien.
Misalnya kamu memilih markup 80% lalu membulatkan harga menjadi Rp28.000, laba kotornya Rp12.500 per gelas. Setelah itu, bandingkan dengan harga pesaing di sekitarmu dan pertimbangkan biaya lain di luar HPP, seperti promosi dan potongan aplikasi pesan antar.
Kalau usahamu memakai PPh Final 0,5%, ingat bahwa pajaknya dihitung dari omzet, bukan dari laba. Sebagian pemilik usaha ikut memperhitungkannya saat menentukan harga. Ringkasan aturan terbarunya ada di catatan PPh final UMKM 2026, dan aturan pajak bisa berubah sewaktu-waktu.
Hal yang sering terlewat saat menghitung HPP
- Kemasan, label, dan stiker yang dianggap remeh.
- Bahan yang terbuang, misalnya adonan gagal atau susu kedaluwarsa.
- Upah diri sendiri saat kamu ikut memproduksi.
- Harga bahan yang naik diam-diam sejak terakhir kali dihitung.
- Belanja bahan memakai uang pribadi sehingga tidak tercatat. Solusinya ada di panduan memisahkan keuangan pribadi dan bisnis.
Pertanyaan yang sering muncul
Bagaimana contoh HPP makanan seperti kue rumahan?
Misalnya satu loyang brownies membutuhkan bahan Rp60.000, kemasan Rp16.000, gas dan listrik Rp6.000, serta tenaga kerja Rp20.000. Totalnya Rp102.000, sehingga jika dipotong menjadi 16 bagian, HPP per potong Rp6.375. Data simulasi, bukan hasil klien.
Apakah HPP sama dengan modal usaha?
Tidak sama. Modal usaha adalah dana yang kamu tanamkan untuk menjalankan bisnis, termasuk peralatan dan cadangan kas. HPP hanya mencakup biaya yang melekat pada produk yang terjual dalam satu periode.
Seberapa sering HPP perlu dihitung ulang?
Idealnya setiap bulan, atau setiap kali ada perubahan harga bahan yang cukup besar. Untuk usaha dengan banyak menu, mulai dari produk terlaris dulu agar tidak kewalahan. Simpan perhitungan di spreadsheet, jadi kamu cukup mengganti harga bahan dan angka HPP langsung ikut berubah.
Apakah biaya promosi termasuk HPP?
Tidak. Biaya promosi, potongan marketplace, dan biaya kantor termasuk biaya operasional, yang dicatat terpisah di bawah laba kotor. Meski begitu, biaya ini tetap perlu kamu perhitungkan saat menentukan harga jual agar laba bersih tetap aman.
Harga jual yang tenang dimulai dari HPP
Menghitung HPP berarti mengumpulkan biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead, lalu membaginya ke setiap produk. Dari angka itu, kamu bisa menentukan harga jual dengan markup yang masuk akal dan memeriksa apakah setiap penjualan benar-benar menghasilkan laba.
Kalau kamu ingin menghitung HPP seluruh menu atau produkmu bareng, kami bisa bantu lewat layanan keuangan Kancani. Atau, ceritakan dulu kondisimu dan ngobrol dengan kami.


